PENYULUHAN KESEHATAN REPRODUKSI TENTANG SADARI, PEMERIKSAAN HB UNTUK MENCEGAH ANEMIA DAN RESIKO PENYAKIT PARU PADA REMAJA PUTRI DI SMP 20 MALANG RAPAT TAHUN 2025
Sari
Masa remaja (10-19 tahun) merupakan fase kritis dalam siklus kehidupan manusia yang ditandai dengan pertumbuhan fisik, kematangan psikologis, dan perkembangan sosial yang pesat. Remaja perempuan, menghadapi kerentanan ganda dalam aspek Kesehatan. Kejadian anemia pada remaja di Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan remaja putri usia 15-19 tahun mengalami anemia sebanyak 38,1%. Angka kejadian anemia di Kabupaten Bintan berdasarkan data dari Dinkes Provinsi Kepulauan Riau, yang mengalami anemia pada remaja putri pada tahun 2020 dengan usia 15-19 tahun yaitu berjumlah 54,48%. Anemia berhubungan dengan penyakit paru karena keduanya sering menjadi komorbiditas (kondisi bersamaan) yang saling memengaruhi, di mana anemia dapat memperburuk gejala penyakit paru dan sebaliknya, penyakit paru juga dapat menjadi penyebab anemia. Lokasi pelaksanaan yaitu SMP 20 Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan. Kegiatan penyuluhan dilakukan terhadap 30 orang siswi. Pengabdi membuat rup yang terdiri dari Dosen dan Mahasiswa, kemudian menyampaikan materi dengan menggunakan Power Point, Leaflet dan praktek SADARI yang telah dirancang sebelumnya sebagai alat penyuluhan. Leaflet yang dibagikan berjudul “Anemia dan Kesehatan Reproduksi”. Kegiatan penyuluhan berhasil dilaksanakan sehingga diperoleh respon serta antusiasme yang baik dari responden. Hal ini ditunjukkan dengan antusias responden bertanya dan membagikan informasi yang didapat. Penyuluhan yang diberikan juga tersampaikan dengan baik yang dibuktikan dari peningkatan pengetahuan responden terkait Anemia dengan melihat perbandingan hasil pre-test dan post-test. Untuk itu, kegiatan penyuluhan menggunakan media penyuluhan sangat penting diterapkan sebagai salah satu upaya peningkatan pengetahuan masyarakat terutama kelompok rentan yaitu remaja.
Kata Kunci: Remaja, SADARI, anemia
Adolescence (10–19 years) is a critical phase in the human life cycle, marked by rapid physical growth, psychological maturation, and social development. Adolescent girls face dual vulnerabilities in terms of health. The incidence of anemia among adolescents in Riau Islands Province shows that 38.1% of girls aged 15–19 experience anemia. According to data from the Riau Islands Provincial Health Office, the prevalence of anemia among adolescent girls in Bintan Regency in 2020, specifically those aged 15–19 years, reached 54.48%. Anemia is associated with lung diseases because both often occur as comorbid conditions that influence one another; anemia can worsen symptoms of lung disease, and conversely, lung disease can also be a contributing factor to anemia. The activity took place at SMP 20 in Malang Rapat Village, Bintan Regency. The counseling session was conducted for 30 female students. The service team—comprising lecturers and students—delivered the material using PowerPoint presentations, leaflets, and a breast self-examination (BSE) practice session (SADARI), which had been previously designed as an educational tool. The distributed leaflet was titled “Anemia and Reproductive Health.” The counseling activity was successfully carried out, receiving positive responses and enthusiasm from the participants. This was evident from their eagerness to ask questions and share the information they gained. The counseling was effectively delivered, as shown by an increase in participants’ knowledge regarding anemia based on the comparison of pre-test and post-test results. Therefore, health education activities using appropriate educational media are essential as a strategy to improve public knowledge, particularly among vulnerable groups such as adolescents.
Keywords: Adolescents, BSE, anemia
Teks Lengkap:
PDFRefbacks
- Saat ini tidak ada refbacks.
Jurnal Pengabdian Masyarakat Anugerah Bintan is indexed by:





